Tasyakuran Haji, “Syukur dan Kontinuenitas Berdo’a” 1 November, 2008
Posted by Muhlisin Family in ceritaku.Tags: hikmah
trackback
Hm… kata syukur ya… sepertinya sudah tidak asing lagi ditelinga kita mengenai kata ini.
Ada banyak ungkapan yang menyatakan syukur, ada pula yang berupa perbuatan. Tapi, kadang kala kita tidak begitu memahami seperti apa sih syukur itu sebenarnya, dan bagaimana cara mengungkapkan rasa syukur itu dengan benar. ( Ada yang tahu nggak ya … ? ).
Mungkin para ulama’ atau orang 2x yang lebih dekat kepada Sang Kholiq yang lebih paham betul mengenai kata “Syukur” ini. Tapi, aku punya sedikit cerita yang mungkin bisa berbagi dengan teman 2x, sanak saudara, dan yang pasti untuk aku pribadi dan keluargaku.
Hari ini, sabtu sepulang dari numpang bobo’ dihotel super istimewah, yaitu “KANTOR”. Aku pulang bareng teman kantor jam 1.30 siang hari. Sesampai dirumah, sekitar jam 3 kurang 15 menit.
Ya, pinginnya sih sampai rumah istirahat bentar merebahkan tubuh untuk mengkendorkan otot2x yang kaku habis bekerja keras, tapi… si kecil pinginnya main bareng Ayah tercintanya. huehuehue… maklum, semalam ditinggal sendirian bobo’ bareng ibunya.
Nah, disela-sela bermain dengan sikecil, sempat ada perasaan kesal dan capek. Tapi, lama-lama perasaan itu hilang dan jadi terucap kata “Syukur Alhamdulillah”, hari ini masih bisa dilewati dengan begitu nikmat. ( Sedikit gerundell sih kalau ingat ada persoalan yang bikin nggak bisa pulang rumah semalam )
Habis itu, setelah mandi dan sholat, si kecil pun minta gendong… saking kangennya, dia sampai tidur dipelukanku… hehehe… belajar jadi ayah yang baik.
Tet……( ceritanya diputar cepat ) Sampailah sampai sholat maghrib. Disitu, tetangga datang ngasih kabar.
” Mas, nggak ikutan kondangan tah ? “. tetanggaku negur.
” Lho…emangnya ada kondangan tah mbak ?, trus kerumah siapa ?, dan acaranya apa ? ” mirip tetangga posesif
.
“ Itu lho ada kondangan dirumah pak Fauzi yang di alam hijau tasyakuran mau naik haji “.
” Waduh, kok istriku belum ngomong ya mbak…? “.
” Lho, lamong bapak-e sampeyan wes pesenan, mengko sampeyan sing wakili kondangan, dadi iso budhal bareng numpak sepeda…piye sih mas… “.
” Iyo mas, lali aku arep ngomong karo sampeyan…” istriku tiba-tiba dari belakangku ngomong.
“ Yo wes mbak, yen ngono aku tak salin dishek, mengko budhal bareng karo mas-e sampeyan… “.
Nah, berangkat deh….
Ups, jadi lupa mo ngomongin soal topiknya….
Inti cerita ini, aku ambil sebenare waktu mengikuti prosesi tasyakuran. Waktu itu, si Shohibul Bait ( tuan rumah ) mengundang Ustadz untuk mengisi tausiah mengenai Haji.
Awalnya sih ngelihat nih ustadz, sebel bangets. Sempet dalam hati gerundel ( ngomong dewe ), “ nih ustadz kok wajahnya serem bangets ya… kayaknya ceramahnya nggak enak nich… bakalan ngantuk berat nich kalau kelamaan“. Ternyata, e- ternyata, Ustadznya GOKIL Abisss…
Tapi, Subhanallah… manusia memang makhluk yang lemah. Kita tak bisa melihat seseorang dari wajahnya saja, tapi… hati seseorang sulit ditebak. Itu pelajaran pertama yang aku dapatkan hari ini.
Isi ceramah si sama dengan yang lainnya, menerangkan nikmatnya Haji, bagaimana sikap kita disana, dan semuanya yang ada disana.
Akan tetapi, ada beberapa hal yang rasanya begitu menyentuh hati ini….
Si Ustadz bilang : ‘ Hidup itu jangan seperti orang tua yang pikun ( pelupa ). Malam menyulam benang, Paginya mengurai lagi “. Insya Allah spt itu.
Artinya : Jika kita sudah berbuat atau merubah sifat kita yang buruk menjadi baik, janganlah nanti kita berubah kembali buruk lagi.
Perkataan ini simple, tapi syarat makna. Seberapa jauh kita bisa menjaga apa yang pernah kita capai dalam melakukan perubahan dari yang buruk menjadi baik ?. Seberapa mampukah kita menjaga kontinue nitas ibadah kita kepada Allah ?. Dan seberapa banyak kita bertaubat kepada Nya dan mengulangi kembali kesalahan kita yang sama ?. Malu sebenarnya bila hati ini menjawab pertanyaan – pertanyaan itu.
Itu yang bikin aku pulang dari sana sempet kepikir terus… Kita hanya mempermainkan diri kita sendiri. Mungkin jika Malaikat melihat kita, akan ketawa mereka melihat tingkah pola kita…Allah… semoga kita selalu diberikan padang ati…
Sebenarnya, ada beberapa hal yang patut kita cermati dalam kehidupan kita. Yaitu, mungkin kita kurang memaknai kata “Syukur” atas nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Intinya Ikhlas… dan dibarengi dengan kontinue nitas kita untuk berdo’a kepada Sang Kholiq.
Dari perkataan diatas, dapat kita ambil 2 hal, yaitu “Syukur sebenar-benarnya” dan “Berdo’a terus menerus, bukan disaat kita butuh baru berdo’a“.
Saya coba urai dikit mengenai 2 kata tersebut, sesuai dengan akal pikiran yang saya punya… mungkin orang lain bisa menanggapi beda, karena sisi pandang seseorang mengenai sesuatu hal itu berbeda.
Kata pertama : “Syukur sebenar-benarnya“. Kata ini memang sederhana. Syukur, artiinya mengucapkan rasa syukur kita atas semua hal kepada Allah, dengan mengucapkan Alhamdulillah. Mungkin itu awal yang ada dipikiran kita bila mendengar kata syukur. Akan tetapi, syukur sebenarnya kata Ustadz adalah perkataan Alhamdulillah, tetapi tanpa diikuti perasaan yang neko2x. ( ikhlas).
Dari keterangan diatas, sedikit terlupakan sepertinya oleh kita semua. Yang pasti, setiap kali kita mengucapkan kata alhamdulillah, kita pasti menambahi embel-embel yang mungkin disitulah kesalahan kita memahami kata syukur ini. Contohnya nich :”Syukur Alhamdulillah ya bu…gaji kita bulan ini bisa beli susu buat si kecil, walaupun tidak sebesar bulan kemarin“. Nah… kalimat “walaupun tidak sebesar bulan kemarin” ( Pengalaman Pribadi ) , itulah letak kesalahan kita dalam mengungkapkan syukur yang sebenar-benarnya. Allahu Akbar,…aku sendiri baru tahu, padahal dah 26 thn menghirup udara yang Allah berikan…
Sedangkan kata kedua : “Berdo’a terus menerus, bukan disaat kita butuh saja”. Kata kedua ini sangat extrim. Karena, kebanyakan dari KITA, akan berdo’a bila kita dalam kesusahan saja. Kita akan terlena akan nikmat yang Allah berikan, dan melupakan Dia. Dan akan mengingat Allah bila kita terkena musibah.
Type kehidupan itu ada 3, kata Ustadz, Ujian, Balasan, dan Peringatan artinya, tidak semua yang menimpa kehidupan kita adalah Balasan dari apa yang pernah kita perbuat, dan bukan pula sebuah peringatan Allah atas segala kesalahan yang pernah kita perbuat. Ada kalanya itu adalah bentuk ujian Allah terhadap hamba-hamba Nya agar menjadi lebih baik.
Jadi, mengapa kita berhenti untuk memohon…
Kenapa kita tidak bisa seperti waktu kita sedang berpacaran dulu dengan kekasih kita ?.
Seharusnya, kita lebih mesra dengan Allah dalam mengungkapkan perasaan kita…
Karena, Hanya Dia lah yang Maha segala-galanya.
Jadi, Hikmah hari ini adalah :
- Jagalah taubat kita, menjadi taubatan nasuhah dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan janganlah kita seperti ” Orang tua yang pelupa. Malam menyulam, Pagi mengurai sulaman”. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat sedemikian. Amien.
- Ucapkanlah Syukur dengan Ikhlas. Janganlah pernah mengeluh atas nikmat yang kita dapatkan, karena sesuatu yang telah terjadi tak akan berubah.
- Berdo’alah terus menerus, seperti kita berpacaran dengan kekasih kita… Mesra, dan selalu melantunkan sesuatu yang indah untuknya setiap saat. Dan mengenangnya setiap waktu.
Semoga hikmah ini dapat bermanfaat bagi saya pribadi, keluarga, dan teman-teman semuanya. Amien


Komentar»
No comments yet — be the first.