jump to navigation

Memaknai kata “Jangan!” 15 November, 2008

Posted by Muhlisin Family in ceritaku.
Tags:
trackback

w00001b

Jangan bayangkan gajah berwarna merah”, “Tidak boleh berbuat gitu ya…”

2 kata ini sebenarnya sering kali kita dengarkan apabila kita melarang anak kita atau anak kecil untuk melakukan sesuatu yang dimata kita berbahaya atau tidak baik.

Perkataan negatif, itu kalau kita sering dengar dari teman 2x. Tapi, rasanya perkataan seperti ini sangatlah sulit kita hilangkan dibandingkan dengan teori yang mengatakan kita mungkin bisa menggantinya dengan kata sebaliknya dari sesuatu yang buruk, akan tetapi bernada positif.

Hari ini, waktu ada jam koperasi, biasanya kita ngumpul dengan teman 2x kantor sambil makan minum, kita biasanya ngobrol ngalor ngidul. Ada beberapa pelajaran yang sangat menarik yang aku dapat dari teman 2x, yaitu mengenai memaknai kata “jangan” dan “tidak“.

Sebenarnya, kita sering dapat sih mengenai hal ini saat kita mengikuti beberapa training dari perusahaan mengenai kontrol ESQ. Tapi, kadang kala kita menyepelekan materi yang trainee berikan kepada kita. Karena apa, karena kita orang – orang pandai. hehehe… temanku bilang :“Lha…kuwi sing ngomong, ilmune podho karo kene, dadi… wes rah usah digubris…”.

Itu gurauan yang sering teman – teman lontarkan kalau lagi wegah ngikutin training….

Tapi, kali ini saya sendiri merasa, apa yang trainee berikan dan banyak orang bilang, itu adalah penting adanya. Kenapa tidak, kacap kali saya dan keluarga pernah ajarkan kepada anak pertama saya, bila mendengar kata “Jangan sentuh!” atau yang berbau “jangan” pastilah akan disentuh dan semakin kita melarang, semakin banyak dia mencoba untuk melakukannya.

Artinya, otak kita tak pernah mengenal kata – kata negatif atau larangan. Jadi, mungkin kita harus belajar untuk mencari kata-kata positif yang bermakna sama dengan apa yang maksudkan untuk melarang sesuatu hal.

Bahasa otak atau Neuro Linguistic Programming (NLP) berbeda dengan bahasa lisan yang kita dengar, karena otak tidak mengenal kata negatif seperti ‘tidak‘ dan ‘jangan’

Mengingat hal ini, saya jadi teringat mengenai sosialisasi mengenai hasil temuan audit yang berlangsung menjadi 3 fase. Semua yang dislide show kan oleh orang-orang HR berkaitan mengenai larangan – larangan untuk melakukan sesuatu hal didalam perusahaan.

Disana yang terjadi adalah, semakin banyak HR menyampaikan mengenai kata “Jangan” yang timbul dipikiran orang – orang adalah semakin ingin melakukan hal itu dan ingin mencoba sesuatu. Bahkan, teman – teman bilang “Tak nyoba ilmune HR, sepiro duwure sih…” hehehe….

Belajar dari semua itu, maka hal yang terbaik sekarang adalah selalu mengungkapkan kata positif, dan mengurangi bahkan sebisa mungkin menghilangkan kata negatif. Karena, pada dasarnya sebuah perkataan itu adalah sebuah Do’a. Jadi, sepantasnyalah kita selalu mendo’akan yang baik-baik.

Komentar»

1. slamet a wijaya - 28 November, 2008

Wah apik tenan artikelmu, khususe kanggo aku sing esih due bocah cilik. Supaya tidak gampang melarang kreativitas mereka dengan kata2 “jangan” atau “tidak boleh”. Meski, menurut kita larangan itu untuk kebaikannya.

Tapi, kenyataan di masyarakat kalau melihat si anak melakukan hal-hal yang menurut kita tidak sreg, pasti mulut ini reflek melarang “jangan…..nggak boleh begitu, begitu..”, dll.

Contoh kecil, saat balita kita memegang remot tv atau vas bunga mini di atas meja, karena kita kuatir benda itu terjatuh atau di banting. Pasti mulut langsung melarang “jangan…jangan….”(maksudnya tidak boleh mengambil), padahal dia juga ingin mengerti banyak tentang benda itu. akhirnya, karena kesal atau apa, remot atau vas keramik itu pun dibanting beneran.

Untung mamanya anak2 wis nduweni kesadaran, asal tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, cukup diawasi saja.Terus sambil mengarahkan, walau tujuannya melarang tetapi dengan kata-kata yang mereka tangkap sebagai hal positif.

Eh maaf, maksudnya bukan “jangan” yang seperti ini yah?

Sorry keliru….

2. dewicin - 28 November, 2008

@slamet a wijaya

Hehehe… memang susah pak menghilangkan sesuatu yang sudah menjadi suatu kebiasaan yang ada dilingkungan kita.

Contohnya nich, bila anak kita terjatuh, yang disalahkan malah “Batu atau Tanah” padahal tuh kan benda mati…

Inilah yang membuat negara kita dimata negara lain, terlihat ANEH dan terbelakang…

Karena, kita juga sering mengajarkan kepada anak kita suatu kebohongan besar, yang nantinya dibawa sampai besar… Naudzubillah…

Jadi, yuk kita rubah semua ini sedini mungkin… karena kalau bukan kita, siapa lagi… ?